Kenali DBD Sebelum Terlambat

Kenali DBD Sebelum Terlambat

Updated: 29 Jan 2021 | Written By: Pocari Sweat

Apa itu demam berdarah dengue (DBD)?

Musim hujan dikenal musim banyak penyakit, tak terkecuali demam berdarah dengue. Saat musim hujan, lebih banyak orang yang terserang demam berdarah dengue (1). Demam berdarah adalah penyakit menular yang biasanya ada di negara-negara tropis, salah satunya Indonesia (2). Semua rentang usia bisa terkena demam berdarah mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga orang dewasa (3). Demam berdarah disebabkan oleh virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes (4).

Gejala demam berdarah dengue mirip dengan flu parah, biasanya muncul pada hari ke-2 hingga hari ke-7 setelah nyamuk Aedes menggigit manusia. Pada penderita DBD, gejala utama yang muncul yaitu demam tinggi (suhu tubuh 39 – 40 °C) serta gejala lain seperti (5):

a.       Sakit kepala

b.       Nyeri di belakang bola mata

c.       Nyeri otot dan sendi

d.       Mual

e.       Muntah

f.        Kelenjar bengkak

g.       Ruam

Apakah demam berdarah dengue berbahaya?

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia hingga awal desember 2020 tercatat 661 orang meninggal dunia akibat DBD (6). Jadi penyakit DBD ini sangat perlu diwaspadai, karena jika terjadi DBD parah dapat menimbulkan komplikasi penyakit serius lainnya seperti disfungsi hati dan ginjal, gagal jantung dan bahkan dapat menyebabkan kematian (4,5).

Bagaimana hubungan demam berdarah dan cairan tubuh?

Pada saat mengalami DBD, tubuh banyak kehilangan cairan dan ION tubuh karena demam tinggi dan muntah (4). Saat DBD dapat terjadi kebocoran plasma dimana cairan tubuh akan keluar dari pembuluh darah (7). Sehingga, penderita yang mengalami DBD erat kaitannya untuk mengalami dehidrasi sebagai komplikasi utama (8).

Apa yang harus dilakukan saat demam berdarah?

Berikut ini tata laksana perawatan penderita DBD yang dianjurkan oleh World Health Organization saat mengalami DBD (4)

a.  Istirahat yang cukup

b.  Tetap menjaga suhu tubuh di bawah 39 °C. Jika suhu tubuh di atas 39 °C, berikan parasetamol. Tetapi hindari juga penggunaan parasetamol terlalu banyak. Penggunaan aspirin atau NSAID tidak dianjurkan.

c.  Kompres dengan air hangat kuku di dahi, ketiak dan tangan serta kaki. Mandi dengan air hangat juga dianjurkan untuk orang dewasa.

d.  Minum yang cukup, salah satu minuman yang disarankan WHO saat DBD adalah minuman isotonik elektrolit dan tidak disarankan untuk minum air putih biasa karena dapat menyebabkan elektrolit tubuh menjadi tidak seimbang (9). Minuman isotonik elektrolit yang sangat mudah ditemui adalah POCARI SWEAT. Keunggulan minuman isotonik elektrolit adalah lebih cepat diserap tubuh, cepat menggantikan cairan dan ion yang hilang sehingga lebih baik dalam menjaga cairan tubuh.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa minuman isotonik elektrolit lebih dapat diterima dan lebih efektif untuk pasien DBD dibandingkan dengan air putih. Penderita DBD yang mengonsumsi minuman isotonik elektrolit mengalami mual dan muntah yang lebih sedikit, bahkan lebih cepat turun demam dibandingkan dengan pasien yang mengonsumsi air putih (10).

Jangan lupa tetap jaga cairan tubuhmu saat terkena DBD. Cairan tubuh kita terdiri dari air dan ION. Minum minuman ber-ION untuk menggantikan ION yang hilang dan juga lebih cepat diserap sehingga cepat menggantikan cairan tubuh yang hilang. Stay safe, stay healthy!

 

Referensi:

(1)    Haryanto, B. (2018). Indonesia Dengue Fever: Status, Vulnerability, and Challenges. Current Topics in Tropical Emerging Diseases and Travel Medicine.

(2)    Khetarpal, N., & Khanna, I. (2016). Dengue Fever: Causes, Complications, and Vaccine Strategies. Journal of immunology research, 2016, 6803098.

(3)    Hasan, S., Jamdar, S. F., Alalowi, M., & Al Ageel Al Beaiji, S. M. (2016). Dengue virus: A global human threat: Review of literature. Journal of International Society of Preventive & Community Dentistry, 6(1), 1–6.

(4)    World Health Organization Regional Office for South-East Asia. (2011). Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever, Revise and expanded edition. New Delhi: WHO.

(5)    World Health Organization. "Dengue and severe dengue." (2018). https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue (Accessed 26th January 2021).

(6)    Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI. (2020). Data Kasus Terbaru DBD di Indonesia. [online] Available at: https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20201203/2335899/data-kasus-terbaru-dbd-indonesia/ (Accessed 26th January 2021).

(7)    Centers for Diesase Control and Prevention. (n.d.). Plasma Leakage Audio Narration Transcript. In: Dengue Clinical Case Management E-Learning. [online] Available at: https://www.cdc.gov/dengue/training/cme/ccm/Plasma%20Leakage%20Audio%20Narration_final.pdf (Accessed 27th January 2021).

(8)    U.S. Department of Health And Human Services: Centers for Disease Control and Prevention. (2009). Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever. [online] Available at:https://www.cdc.gov/dengue/resources/denguedhf-information-for-health-care-practitioners_2009.pdf  (Accessed 27th January 2021).

(9)    World Health Organization, Special Programme for Research, Training in Tropical Diseases, World Health Organization. Department of Control of Neglected Tropical Diseases, World Health Organization. Epidemic, & Pandemic Alert. (2009). Dengue: guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. World Health Organization.

(10)Nainggolan, L., Bardosono, S., & Ibrahim Ilyas, E. I. (2018). The Tolerability and Efficacy of Oral Isotonic Solution versus Plain Water in Dengue Patients: A Randomized Clinical Trial. Indian journal of community medicine : official publication of Indian Association of Preventive & Social Medicine, 43(1), 29–33.